Subak Bali

Subak Bali Jadi Warisa Dunia

subak-01Indonesia boleh berbangga memiliki Bali sebagai salah satu pulau yang telah ‘mendunia’. Selain pesona wisata alam dan budaya yang sangat indah dan menarik, Bali yang dikenal sebagai pulau Dewata pun berhasil membuktikan bahwa mereka mampu memadukan wisata dan budaya yang dimiliki sebagai sebuah warisan yang diakui di mata dunia. Hal ini dibuktikan dengan disahkannya Subak Bali (Bali Culture Landscape) sebagai situs Warisan Dunia oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Keilmuan dan Budaya atau United Nation Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pada Sidang ke-36 di St.Petersburg – Rusia, hari Jumat (29/6).

Subak Bali adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah tradisional yang digunakan masyarakat Bali untuk bercocok tanam padi. Sistem Subak biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi Dewi Sri yang merupakan dewi kemakmuran dan kesuburan. Sistem pengairan ini kemudian diatur oleh seorang pemuka adat yang juga merupakan seorang petani. Konon, Subak telah dianut selama ratusan tahun lamanya, namun dianggap tetap cocok untuk diterapkan di era modern ini, sebab sistem pengairan Subak identik dengan sikap kekeluargaan dan gotong royong masyarakat Bali. Bahkan, Subak pun membuat para petani bersikap adil dan bijaksana dalam pengairan sawah. Selain mengandung makna mendalam tentang kebudayaan Bali, keunikan Subak terletak pula pada tampilan kawasan Subak yang berundak-undak atau bertingkat-tingkat. Inilah yang menjadi perpaduan antara wisata alam dan budaya sistem Subak Bali.

UNESCO sendiri menilai, Subak sebagai sistem irigasi telah mampu mempertahankan budaya asli bahkan menjadi perekat sosial masyarakat Bali. Tentu pengesahan ini menjadi puncak kegembiraan masyarakat Bali dan sekitarnya,  setelah 12 tahun memperjuangkan agar Subak menjadi salah satu budaya Indonesia yang diakui dunia.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Windu Nuryanti, mengaku senang sistem pengairan Subak dari masyarakat Bali telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia (World Heritage). Windu pun sangat berterima kasih kepada negara-negara lain yang telah mendukung pengesahan Subak Bali. Menurut Windu, budaya Subak dianggap memiliki Outstanding Universal Values atau memiliki nilai budaya yang luar biasa, yang masih bisa ditunjukkan bukti-buktinya sebagai kultur hidup serta diikuti oleh masyarakat adat di Bali sampai saat ini. Tidak mengherankan jika pengesahan ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah.

Adanya usulan subak menjadi warisan budaya dunia ternyata telah mendongkrak kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara ke salah satu kawasan Subak, yakni kawasan terasering persawahan Desa Jatiluwih. Terletak di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan dan berjarak sekitar dua jam dari Kuta, tempat ini memiliki luas lebih dari 400 hektar. Di tempat inilah, bisa didapati hamparan terasering persawahan yang hijau, udara yang bersih, suasana yang tenang dan melihat langsung kehidupan para petani dari dekat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tabanan, Wayan Adnyana mengatakan, sejak mulai diusulkan menjadi warisan budaya dunia pada tahun 2002, kawasan Jatiluwih telah banyak dikunjungi wisatawan. Kawasan Jatiluwih rata-rata per harinya dikunjungi lebih dari seratus orang wisatawan mancanegara yang sebagian besar merupakan wisatawan Eropa. Jumlah ini belum termasuk rombongan wisatawan domestik dan pelajar yang mengunjungi Jatiluwih. Tren peningkatan kunjungan wisatawan tahun 2012 pun dinilai cukup signifikan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja hal ini juga disebabkan karena rasa penasaran sebagian wisatawan terhadap keindahan kawasan terasering pertanian yang berundak-undak.

Setelah diusulkaSawah-Terasering-Subak-Bali-01n pada tahun 2002, pemerintah daerah dan akademisi dari Universitas Udayana kemudian mengkaji kawasan itu untuk selanjutnya dibawa ke tingkat pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga ke UNESCO, yang kemudian dikaji lebih intensif pada tahun 2008.

Pada akhirnya, Subak Bali ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh UNESCO bertepatan dengan 40 tahun Konvensi Warisan Budaya Dunia. Konvensi yang dimulai pada tahun 1972 ini merupakan fakta internasional untuk melestarikan budaya dan warisan alami yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Sebelumnya, beberapa jenis warisan budaya Indonesia telah lebih dulu diakui oleh UNESCO. Beberapa warisan budaya Indonesia tersebut di antaranya adalah Batik, Keris, Candi Prambanan serta alat musik Angklung dan Karinding.

Nah, semoga saja dengan adanya pengesahan berbagai warisan budaya Indonesia termasuk Subak Bali, dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk semakin mencintai, menjaga dan mengembangkan warisan lokal yang ada di daerah masing-masing. Tidak hanya sebagai warisan dunia tetapi juga sebagai warisan bagi generasi penerus di masa mendatang.

pura-selukat2


Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: