Bangunan Bali

Sebuah bangunan suci dengan arsitektur khas Bali yang memiliki nilai sejarah tinggi terdapat di Desa SokaBatu Lumbang, Kecamatan Bajera, Kabupaten Tabanan, Bali. Bangunan suci itu bernama Pura Luhur Srijong.

Pura Luhur Srijong merupakan pura dang khayangan dimana pura ini digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu sebagai manifestasi kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dewa Baruna sebagai bentuk manifestasi kepada penguasa lautan. Pura Srijong berada di bibir Pantai Soka dikelilingi oleh pohon kelapa dan semak- semak sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang mengunjunginya, dan aura mistis pun akan terasa pada saat memasuki pura ini.

Adapun konsep yang dipakai dalam pembuatan pura ini adalah konsep “tri mandala”, dimana pada halaman nista mandala terdapat: bale gong, bale pegat, bale pogo, dan kwargan suci. Sedang pada halaman madya terdapat: lumbung, pelinggih ratu nyoman, peliasan ratu nyoman serta bale panjang. Terakhir pada halaman utama terdapat: meru tumpang tiga, padmasana, pelinggih taksu agung, pelinggih batara segara, bale simpan, bale agung dan bale peliasan.

Keunikan Pura Srijong ini terletak pada sejarah yang konon pada jaman dahulu kala warga setempat yang tinggal di tepi pantai melihat seberkas cahaya yang sangat terang muncul ditepian pantai yang berbatu karang, yang kemudian diyakini oleh mereka sebagai pertanda baik sehingga didirikanlah sebuah pura yang dikenal dengan nama Pura Luhur Srijong.

Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pura ini dibangun sekitar abad ke-16 M, dimaksudkan untuk menghormati Dang Hyang Dwijendra yangmana beliau merupakan guru yang sangat berjasa di pulau dewata ini serta sanggup memberikan penerangan kepada umat Hindu yang ada di Bali.

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar pura ini bertumpu pada sektor pertanian namun pada bulan-bulan tertentu sebagian dari mereka pergi melaut untuk mencari ikan.

Saat ini fasilitas yang tersedia adalah: warung penjual makanan dan minuman, toilet serta area parkir yang cukup luas.

Pura Luhur Srijong berjarak kurang lebih 55 km dari Kota Denpasar sehingga diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan untuk tiba di pura ini.

Kawasan Pura Srijong termasuk areal yang sangat dijaga kesucian dan kelestariannya karena nilai histori serta kesakralan yang dimiliki oleh pura ini, maka patutlah menjadi pertimbangan tujuan wisata bagi anda penggemar sejarah serta bentuk arsitektur Bali nan indah.

Balai Wantilan atau pendapa yang difungsikan sebagai tempat untuk pergelaran kesenian, sepenuhnya dibangun mengikuti arsitektur tradisional Bali. Bangunan ini beratap ilalang dan tiang-tiangnya dari batang kelapa. Sesuai perkembangan zaman dan pertimbangan keamanan, tiang-tiang dari batang kelapa ini kemudian diganti dengan tiang beton yang mirip dengan bentuk batang kelapa. Di bagian depan balai ini tampak panggung pertunjukan seni yang berlatarkan pintu gapura Candi Bentar. Di kiri dan kanan depan panggung terdapat patung burung garuda dan di bagian belakang ruangan berdiri patung kayu yang melukiskan raksasa Kumbakarna yang dikerubuti kera. Semuanya itu dipahat dari satu pokok kayu. Dinding bagian belakangnya dihiasi relief batu paras, yang menggambarkan kisah Ramayana.

Renovasi interior yang dilakukan pada tahun 2003 telah meningkatkan kenyamanan Istana Tampaksiring sesuai dengan gaya hidup modern tanpa meninggalkan konsep desain aslinya. Semua kamar mandi di Wisma Merdeka dan Wisma Negara, misalnya, diubah agar sesuai dengan standar kamar mandi hotel berbintang lima. (osa)

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: