Pura-Pura di Bali

Pera Sakenan

Pura SakenanPura Sakenan berstatus Dang Kahyangan. Letak pura ini di sebuah pulau kecil bernama Pulau Serangan. Luas daratan pulauini semula sekitar 1.119km2, terletakdi ujung tenggara pulau Bali, yang merupakan bagian dari wilayah Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kotamadya Denpasar. Namun setelah diadakan reklamasi, luas daratan pulu ini menjadi berlipat ganda.
Pura SakenanPura Sakenan berstatus Dang Kahyangan. Letak pura ini di sebuah pulau kecil bernama Pulau Serangan. Luas daratan pulauini semula sekitar 1.119km2, terletakdi ujung tenggara pulau Bali, yang merupakan bagian dari wilayah Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kotamadya Denpasar. Namun setelah diadakan reklamasi, luas daratan pulu ini menjadi berlipat ganda.

Untuk mencapai lokasi Pura Sakenan, dari pusat kota Denpasar, kita harus menuju arah Selatan menempuh jalan sekitar 10 km. Setelah rekiamasi, Pulau Serangan disatukan dengan daratan Bali oleh jalan dan jembatan. Dahulu, sebelum direklamasi, umat Hindu berjalan kaki melintasi laut, jika air laut sedang surut. Namun jika air laut lagi pasang, kita harus berlayar dengan perahu atau jangolan. Kita menyeberangi lautan melalui sela-sela hutan bakau selama lebih kurang 30 menit. Asyik juga melakukan perjalanan dengan jangolan. Lebih-lebih bagi umat yang belum pernah naik perahu dan tumben tangkil ke Pura Sakenan. Setelah melewati hutan bakau, di sebelah barat kita melihat Pelabuhan Kapal Laut Benoa, dan di sebelah Timur, nun jauh di sana terlihat pula Puiau Nusa Penida. Setelah jaian dan jembatan rampung, semua jenis kendaraan bermotor sudah bisa langsung ke pulau mungil ini. Perahu atau jangolan praktis tak terpakai lagi.

Pura ini terbagi menjadi dua bagian yang sama-sama dikelilingi oleh tembok penyengker. Bagian timur adalah Pura Masceti dan yang di sebelah barat adalah Pura Sakenan. Palinggih-palinggih yang ada di lingkungan Pura Masceti sebagian besar merupakan Pedarman. Sedangkan pada Pura Sakenan hanya terdapat satu persada yaitu Persada Danghyang Dwijendra.
Untuk mencapai lokasi Pura Sakenan, dari pusat kota Denpasar, kita harus menuju arah Selatan menempuh jalan sekitar 10 km. Setelah rekiamasi, Pulau Serangan disatukan dengan daratan Bali oleh jalan dan jembatan. Dahulu, sebelum direklamasi, umat Hindu berjalan kaki melintasi laut, jika air laut sedang surut. Namun jika air laut lagi pasang, kita harus berlayar dengan perahu atau jangolan. Kita menyeberangi lautan melalui sela-sela hutan bakau selama lebih kurang 30 menit. Asyik juga melakukan p Pura SakenanPura Sakenan berstatus Dang Kahyangan. Letak pura ini di sebuah pulau kecil bernama Pulau Serangan. Luas daratan pulauini semula sekitar 1.119km2, terletakdi ujung tenggara pulau Bali, yang merupakan bagian dari wilayah Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kotamadya Denpasar. Namun setelah diadakan reklamasi, luas daratan pulu ini menjadi berlipat ganda.

Untuk mencapai lokasi Pura Sakenan, dari pusat kota Denpasar, kita harus menuju arah Selatan menempuh jalan sekitar 10 km. Setelah rekiamasi, Pulau Serangan disatukan dengan daratan Bali oleh jalan dan jembatan. Dahulu, sebelum direklamasi, umat Hindu berjalan kaki melintasi laut, jika air laut sedang surut. Namun jika air laut lagi pasang, kita harus berlayar dengan perahu atau jangolan. Kita menyeberangi lautan melalui sela-sela hutan bakau selama lebih kurang 30 menit. Asyik juga melakukan perjalanan dengan jangolan. Lebih-lebih bagi umat yang belum pernah naik perahu dan tumben tangkil ke Pura Sakenan. Setelah melewati hutan bakau, di sebelah barat kita melihat Pelabuhan Kapal Laut Benoa, dan di sebelah Timur, nun jauh di sana terlihat pula Puiau Nusa Penida. Setelah jaian dan jembatan rampung, semua jenis kendaraan bermotor sudah bisa langsung ke pulau mungil ini. Perahu atau jangolan praktis tak terpakai lagi.

Pura ini terbagi menjadi dua bagian yang sama-sama dikelilingi oleh tembok penyengker. Bagian timur adalah Pura Masceti dan yang di sebelah barat adalah Pura Sakenan. Palinggih-palinggih yang ada di lingkungan Pura Masceti sebagian besar merupakan Pedarman. Sedangkan pada Pura Sakenan hanya terdapat satu persada yaitu Persada Danghyang Dwijendra.erjalanan dengan jangolan. Lebih-lebih bagi umat yang belum pernah naik perahu dan tumben tangkil ke Pura Sakenan. Setelah melewati hutan bakau, di sebelah barat kita melihat Pelabuhan Kapal Laut Benoa, dan di sebelah Timur, nun jauh di sana terlihat pula Puiau Nusa Penida. Setelah jaian dan jembatan rampung, semua jenis kendaraan bermotor sudah bisa langsung ke pulau mungil ini. Perahu atau jangolan praktis tak terpakai lagi.

Pura ini terbagi menjadi dua bagian yang sama-sama dikelilingi oleh tembok penyengker. Bagian timur adalah Pura Masceti dan yang di sebelah barat adalah Pura Sakenan. Palinggih-palinggih yang ada di lingkungan Pura Masceti sebagian besar merupakan Pedarman. Sedangkan pada Pura Sakenan hanya terdapat satu persada yaitu Persada Danghyang Dwijendra.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Pulaki

Pura Pulaki

Pura PulakiPura Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke lauL Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yung hanya menghijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di medan yang terjal berbatu-batu. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Ratusan kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan nakal, usil, juga menciptakan daya tarik tersendiri. Terletak di Desa Bunyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja, pura iiy terletak di pinggir jalan rayajurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu biasanya suka singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijeiaskan secara rinci. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah. Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali UtaraDrs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara — sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang — maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah, Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. “Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini,” kata Simba. Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnyaberkaitan dengan sarana pemujaan masyarakut prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Silayukti

pura silayukti

Pura Silayukti terletak di ujung selatan Gunung Luhur Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Di sebalah selatan membentang laut yang memisahkan antara pulau Bali dengan Nusa Penida. Di sebelah utara berdiri Gunung Luhur. Di sebelah barat teluk Padangbai (Pelabuhan Padangbai). Di sebelah timur Teluk Labuhan Amuk. Pura itu didirikan di atas tanah datar dan menjorok ke laut, menghadap ke selatan.

Untuk mencapai pura itu sudah mudah, karena jalan menuju halaman pura sudah bagus. Namun jika memakai bis besar dan banyak rombongan, sebaiknya parkir di depan sekolah dasar Padangbai dan dari sana perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 400 meter. Pura itu terletak pada ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan laut.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Dalem Ped

Pura dalem ped

Pura ini sangat terkenaL Namanya Pura Penataran Agung Ped (kata Ped sering  ditulis dan diucapkan Peed). Tapi pura ini sering disebut Pura Dalem Peed. Letak pura ini di Desa Peed, Sampaian, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Untuk menuju pura ini, umat harus menyeberang laut sekitar 30 menit dari Pelabuhan Padangbai. Bisa juga dari Pantai Sanur, Denpasar, namun perjalanannya tentu lebih lama.

Karena pengaruhnya yang sangat luas, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat. Pura ini selalu dipadati pemedek untuk memohon kerahayuan. Bagaimana sejarah pura ini? Pura ini menyimpan banyak cerita menarik, bahkan sedikit berbau “seram”.

Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Penataran Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja Mangku Lingsir, menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran  Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.

Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya berjudul Selayang Pandang Pura Ped berpendapat, kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped, Jadi, satu pihak menonjolkan “penataran”-nya, satu pihak lainnya lebih menonjolkan “dalem”-nya.

Beberapa sumber menyebutkan, pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapct yang sakli di Pura Dalem Nusa.

Saking saktinya, lapel-tapel itu bahkan mampu menyetnbuhkan berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Sebclumnya, Ida Pedanda Abiansemal kehilangan ‘ tiga buah tapel. Begitu menyaksikan tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu, ternyata tapel tersebut adalah miliknya yang hilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga Nusa menjaga dengan baik dan secara terus-menerus melakukan upacara-upacara sebagaimana mestinya.

Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, letapi ke seluruh pelosok Bali. Termasuk, warga Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakil lanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun berlimpah.

Sesuai kaulnya, warga kemudian menggelar upacara mapeed. Langkah itu diikuti subak-subak lain di sekitar Sampalan. Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).

Meski pun ada kata “dalem”, namun bukan berarti pura tersebut mempakan bagian dari Tri Kahyangan. Yang dimaksudkan “dalem” di sini adalah merujuk sebutan raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem atau raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Cede Nusa atau Ratu Cede Mecaling.

Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Bhatara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.

Mengarah ke baratnya lagi, ada pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagipelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Bhatara-bhatara pada waktu ngusaba.

Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.

Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran, kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua area yakni Area Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Area Ratu Mas yang ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua area itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang dikeramatkan tersebut.

Adanya perbaikan-perbaikan yang secara terus-menerus itu, membuat hampir seluruh bangunan yang ada di pura ini terbentuk dengan plesteran-plesteran permanen dari semen dan kapur. Termasuk asagan yang lazimnya terbuat dari bambu yang bersifat darurat, tetapi di sini dibuat permanen dengan plesteran semen.

Ada beberapa pantangan yang harus diikuti jika nangkil ke pura yang diempon 18 desa pakraman ini. Misalnya, umat disarankan agar tidak membawa uang dengan melipatkan tangan ke belakang. Jika itu dilanggar, uang itu bisa hilang sebagian. Begitu juga saat makan agar tidak sambil berdiri atau jongkok. Jika pantangan itu dilanggar, makanannya akan cepat habis tanpa member! kekenyangan.

Purusa Pradana

Pura Dalem Penataran Ped merupakan tempat memuja Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pencipta Purusa dan Pradana. Menurut Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, Purusa itu adalah kekuatan jiwa atau daya spiritualitas yang memberikan napas kehidupan pada alam dan segala isinya. Pradana adalah kekuatan fisik material atau daya jasmaniah yang mewujudkan secara nyata kekuatan Purusa.

Ada cerita menarik dari pura ini. Dalam Lontar Ratu Nusa dicerilakan Bhatara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohani dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jarnbu Dwipa, Kompyang, Dukuh Jumpungan. Dukuh Jumpungan itu lahir dari perlemuan Bhatara Guru dengan Ni Mrenggi, Dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut “limun”. Karena itu disebut Hyang Kalimunan.

Kama Bhatara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murii dan menjadi manusia. Setelah diajar berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian oleh Hyang Tri Murti, beliau diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal sebagai I Mecaling. Menurut Wiana, inilah yang selanjutnya disebut Ratu Cede Nusa.

Ratu Cede Nusa ini berpenampilan sepetti Bhatara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (aim) dari Geria Tainan, Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian sejarah pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan: Saat Bhatara di Gunung Agung, Batu Karu dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali, beliau diiringi oleh 1.500 makhluk halus (wong samar). Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Cede Nusa atas waranugraha Bhatara di Gunung Agung. Bhatara di Gunung Agung memberi waranugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa bratanya yang keras. Atas tapa brata itulah Bhatara di Gunung Agung memberi anugerah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan ajaran agama vang dianutnya.

Di Pura Dalem Penata.an Ped ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi. Dengan demikian, Pura Dalem Penataran Ped itu merupakan pemujaan Siwa Durgha dan pemujaan raja disebut Pura Dalem. Mengapa disebut sebagai Pura Penataran Ped, tiada lain karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi, pemujaan Bhatari Uma Durgha.

Artinya, Pura Penataran Ped ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi. Di pura inilah betemunya unsur Purusa dari Bhatara di Gunung Agung dengan Bhatari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut rambut sedana.

Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyipenan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Ped ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mcndampingi raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung. Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan bahwa Dalem Klungkung melakukan upaya menyatukan Nusa dengan Bali.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Lempuyang Luhur

Pura Lempuyang Luhur

Pura ini terletak di puncak Bukit Bisbis atau Gunung Lempuyang, tepatnya di Desa Purahayu Kecamatan Abang, Karangasem.

Pura ini diduga termasuk paling tua di Bali. Bahkan, diduga sudah ada pada zaman pra-hindu-Buddha. Semula bangunan sucinya terut dari atu. Dewayang distanakan di sini, yakni Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara. Bagaimana cikal bakal berdirinya Pura Lempuyang ?

Ada sebuah informasi yang kiranya cukup menarik. Berdasarkan pemotretan dariangkasa luar, di ujung timur Pulau Bali muncul sinar yang amat trang. Sinar itu paling terang dibandingkan bagian lainnya. Namun tak diketahui pasti dari kawasan mana sinar itu, ttapi diduga dari Gunung Lempuyang.

Soal arti dari Lempuyang, ada berbagai versi. Dalam buku terbitan Dinas Kebudayaan Bali (1998) berjudul Lempuyang Luhur disebutkan, lempuyang berasal dari kata “lampu” yang artinya sinar dan “hyang” untuk menyebut Tuhan, seperti Hyang Widhi. Dari kata itu lempuyang atau lempuyang diartikan sinar suci Tuhan yang terang-benderang (mencorong/menyorot). Pura Lempuyang itu merupakan stana Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.

Versi lain menilik kata “lempuyang” sebagai sebuah kata yang berdiri sendiri. Di Jawa, kata “lempuyang” menunjuk sejenis tanaman yang dipakai bumbu masak. Hal itu juga dikaitkan pada nama banjar di sekitar Lempuyang yakni bernama Bangle dan Gamongan. Bangle dan gamongan merupakan tanaman sejenis yang bias dipakai obat atau bumbu. Versi lain juga menyebut dari kata “empu” atau “emong” yang diartikan menjaga. Bhatara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya turun untuk mengemong guna menjaga kestabilan Bali dari berbagai guncangan bencana alam. Ketiga putra-putri itu yakni Bhatara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur dan Batara Hyang Gni Jaya di Gunung Lempuyang.

Namun, apapun versi dari kata “lempuyang” itu, yang jelas Pura Lempuyang sendiri memiliki status penting, sama seperti Besakih. Baik dalam konsep padma buwana, catur loka pada atau pun dewata nawa sanga. Dalam berbagai sumber lontar atau prasasti kuno, ada tiga pura besar yang sering disebut selain Besakih dan Ulun Danu Batur yakni Lempuyang.

Sekitar tahun 1950 di tempat didirikannya Pura Lempuyang Luhur kini, baru ada tumpukan batu dan sanggar agung yang dibuat dari pohon hidup. Dibagian timur berdiri sebuah pohon sidhakarya (memang itu nama pohon) besar yang kini sudah tak ada lagi. Diduga pohon itu tumbang atau mati pelan-pelan tanpa ada generasi baru yang menggantikannya. Barulah pada 1960 dibangun dua padma kembar, dan sebuah padma tunggal bale piyasan.

Mengutip sejumlah sumber kuno, Jero Mangku Gede Wangi, pemangku di pura itu mengatakan, orang Bali apapun wangsanya tak boleh melupakan pura ini. Sebab, jika tidak pernah atau lupa memuja Tuhan yang manifestasinya berstana di pura ini, selama hidup bisa tak pernah menemukan kebahagiaan, seringkali cekcok dengan keluarga atau dengan masyarakat dan bahkan pendek umur.

Kewajiban masyarakat Bali untuk memuja Batara Hyang Gni Jaya di Lmapuyang Luhur disebutan dalam bhisama Hyang Gni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana sebagai berikut :

Wastu kita wong Bali, yan kita lali ring kahyangan, tan bakti kita ngedasa temuang sapisan, ring kahyangan ira Hyang Agni Jaya, moga-moga kita tan dadi jadma, wastu kita ping tiga kena saupa drawa”.

Jero Mangku Gede Wangi mengatakan, untuk memulai belajar ilmu pengetahuan, apalagi ilmu keagamaan Hindu, sangat baik jika dimulai dengan mohon restu di Pura Lempuyang Luhur. Selain itu, banyak pejabat suka bertirtayatra ke pura ini.

Jero Mangku Gede Wangi menyampaikan, di Pura Lempuyang Luhur terdapat tirta pingit di pohon bambu yang tumbuh di areal pura Luhur. Saat umat nunas tirta, pemangku purausai ngaturang panguning akan memotong sebuah pohon bambu. Air suci/tirta dari pohon bamboo itu dipundut untuk muput berbagai upacara, kecuali manusa yadnya. “Siapa pun tak boleh berbuat buruk seperti campah di pura, jika tak ingin kena marabahaya”, ujar Jero Mangku.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Ulun Danu Batur

Pura ulun danu batur

Pura Ulun Danu Batur diyakini sebagai Dwi Lingga Giri Purusa-Predana. Di pura ini terdapat pelinggih meru tumpang sebelas yang merupakan tempat pemujaan Ida Batara Dewi Danuh. Dalam konsep Siwaistis, gunung dipandang sebagai iingga acala dan danu (danau) sebagai yoni-nya. Itu mengandung makna bahwa gunung dan danau di Bali Dwipa mesti dijaga kesuciannya. Lalu, bagaimana mitologi terjadinya Gunung Batur dan Gunung Agung di Bali ?

Dalam lontar Candi Supralingga Bhuwana ditulis keadaan di Bali Dwtpa dan Seleparang masih sunyi senyap, seolah masih mengambang di tengah samudera yang luas. Pada saat itu di Bali Dwipa baru berdiri empat gunung. Di bagian timur berdiri Gunung Lempuyang, di selatan Gunung Andakasa, di barat Gunung Batukaru, di utara Gunung Mangu. Kondisi Bali Dwipa waktu itu masih labil. Hyang Pasupati yang berstana di Gunung Semeru mengetahui kondisi itu. Beliau memerintahkan Sanghyang Benawang Nala, Sanghyang Anantaboga, Sanghyang Naga Basukih dan Sanghyang Naga Tatsaka memindahkan sebagian puncak Gunung Semeru ke Bali Dwipa.

Sanghyang Benawang Nala menjadi dasar puncak gunung agar kondisi Bali Dwipa menjadi stabil.

Oleh karena itu, Puncak Gunung Semeru yang berdiri di India harus dipccah dan pecahannya itu dipasang di Bali. Selain itu, Gunung Mahameru di India sangat tinggi hampir menyentuh langit. Kalau langit sampai tersentuh maka hancurlah alam ini.

Yang dipecah dengan tangan kiri Hyang Pasupati dibawa Sanghyang Naga Anantaboga. Semenlara pecahan gunung dengan tangan kanan dibawa Sanghyang Naga Basukih. Sedangkan Naga Tatsaka menjadi pengikat puncak Gunung Semeru yang akan dipindahkan ke Bali Dwipa, sekaligus menerbangkan dari Jawa Wetan (Jawa Timur) menuju Bali.

Setibanya di Bali Dwipa, bagian Gunung Semeru yang diambil Hyang Pasupati dengan tangan kanan menjadi Gunung Udaya atau Gunung Purwata atau Tohlangkir atau Gunung Agung. Sementara Gunung Semeru yang diambil dengan tangan kiri menjadi Gunung yang memiliki banyak nairia. Nama gunung itu yakni Cala Lingga, Gunung Tarnpurhyang, Gunung Sinarata, Gunung Lekeh, Gunung Lebah, Gunung Ideran, Gunung Sari, Gunung Indrakila, Gunung Kembar, Gunung Catur, yang kemudian nama yang paling dikenal adalah Gunung Batur. Kedua gunung ini kemudian dikenal sebagai Dwi Lingga Gin serta Parahyangan Purusa-Predana, Dwi Lingga Gin Purusa-Pradana meliputi Pura Kahyangan Besakih (purusa) dan Pura Kahyangan Ulun Danu Batur (predana). Sementara Tri Lingga Gin meliputi Pura Lempuyang Luhur (Brahma), Pura Besakih (Siwa), Pura Ulun Danu Batur (Wisnu).

Hyang Pasupati juga mengutus putra beliau ke Bali Dwipa. Hyang Geni Jaya berstana di Gunung Lempuyang, Parahyangan-nya adalah Pura Lempuyang Luhur. Hyang Putra Jaya berstana di Gunung Agung, parahyangan-nya Pura Besakih, Hyang Dewi Danuh berstana di Gunung Batur, parahyangan-nya Pura Ulun Danu Batur Hyang Tumuwuh di Gunung Batukaru, parahyangan-nya Pura Watukaru. Hyang Tugu berstana di Gunung Andakasa, parahyangan-nya Pura Andakasa. Hyang Manik Gumawang di Gunung Beratan atau Puncak Mangu, parahyangan-nya Pura Manik Corong. Semua putra Hyang Pasupati ini kemudian menjadi amongan, sungsungan serta penyiwian ratu dan kaula di Bali Dwipa.

Sebuah sumber menuturkan, salah satu putra Hyang Pasupati yakni Hyang Dewi Danu. Dalam bahasa Purana, Hyang Dewi Danu disebut pula Dewi Sri, Dewi Laksmi, Dewi Pratiwi dan Dewi Basundari. Itu semua merupakan abiseka dasa nama sebagai Dewi Kesuburan, Dewi Kesejahteraan atau Dewi Keberuntungan yang merupakan sakti Dewa Wisnu.

Dalam konsep filsafat Siwaistis, Gunung Batur merupakan yasa lingga acala dan Segara Danu Batur merupakan yasa yoni-ny&,

Menurut penglingsir Desa Pakraman Batur, Danau Batur berfungsi sebagai taman Ida Batari Dewi Danu. Lama-kelamaan muncul dua puncak di pinggiran danau meliputi puncak kawanan (barat) dan kanginan (timur). Ini pula menyebabkan di Desa Pakraman Batur ada istilah Jero Gede Kanginan dan Jero Gede Kawanan.

Gunung Batur telah meletus berkali-kali. Dalam lontar Raja Purana, Pura Ulun Danu Batur disebutkan tahun Saka 110 (188 Masehi) Gunung Batur meletus. Tahun Saka 111 (189 Masehi) Gunung itu kembali meletus, Saka 114 (192 Masehi) Gunung Batur meletus lagi. Sejak tahun 1804, Gunung Batur meletus sebanyak 30 kali dan paling dahsyat terjadi tanggal 2 Agustus dan berakhir 21 September 1926 pukul 23.00 wita, Letusan Gunung Batur itu membuat aliran lahar panas menimbun Desa Batur dan Pura Ulun Danu Batur.

Setiap Gunung Batur meletus, krama Desa Pakraman Batur mengadakan upwarapemendak Ida Batari Dewi Danu karena Gunung Batur sebagai lingga acala Ida Batari. Bahkan, setiap ada orang meninggal karena kecelakaan di kawasan Gunung Batur dilakukan upacara balik sumpah untuk menyucikan kembali Gunung Batur yang merupakan stana atau linggih Dewi Danu, Itulah sebabnya, setiap lima tahun sekali subak ataupun desa pakraman di Bali bergilir mengadakan bhakti pakelem pembersihan Gunung dan Danau Batur.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Jagatnatha

Pura Agung Jagatnatha

Padmasana itu menjulang tinggi dengan magahnya, Tintya, simbol Hyang Tunggal -Tuhan Yang Maha Esa yang terbuat dari emas itu, dapat dipandang jelas dari lapangan Puputan Badung. Namun pada tahun 1981, benda yang disucikan itu raib disatroni maling.

Itulah sejarah duka Pura Jagatnatha yang berdiri di JL Mayor Wisnu, di timur Lapangan Puputan Badung, sebelah utara Museum Bali, berhadapan dengan Markas Kodam IX/Udayana di pusat kota Denpasar. Oleh karena letaknya di jantung kota, maka tidak sulit menjangkau pura itu.

Pura itu, merupakan tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Hyang Jagat Natha —Penguasa Jagat Raya. Kata “natha” dalam bahasa Sansekerta di samping berarti “raja’, juga “pertolongan” atau “perlindungan”.

Pemangku Pura, Ida Bagus Mangku Widianegara dari Gria Panti Denpasar menuturkkan, piodalan di pura ini digelar setiap tahun sekali, tepatnya pada Purnama Sasih Kelima. Adapun jenis upakara (sesajen) yang dipersembahkan umumnya NyaturRebah, Sedangkan di penataran Padmasana digelar Caru Rsi Gana. Seluruh biaya pujawali ditanggung Pemenntah Kota Denpasar, sebagai pengempon pura. Pemkot juga memberi sesari (honorariu) buat sekaa kidung dan dalang wayang kulit yang pentas tiap pumama. “Sebelum Kota Denpasar, pengempon pura ini adalah Pemerintah Propinsi Bali,” tutur Ida Bagus Widianegara.

Selain saat piodalan, umat yang datang dari mana-mana, pedek tanggil ke Pura Agung Jagatnatha seliap Purnama-Tilem. Umat juga melakukan persembahyangan saat hari-hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi dan SiwaratrL Setiap Purnama-Tilem, persembahyangan di-puput Ida Pedanda Istri Manuaba Mas Sidanta dari Gria Panti. Sedangkan pada saat pujawali (nyejer selama tiga hari), di-puput oleh sejumlah sulinggih yang ada di Denpasar dan sekitarnya.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Besakih

Pura Besakih

Pura Besakih sudah termasyhur di seluruh dunia. Ratusan artikel dalam berbagai bahasa sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui berbagai media komunikasi. Ada yang menyebut, Pura Besakih sebagai”Ibu-nya semua pura”. Sampai abad 21 ini, Pura Besakih memang yang terbesar. Siapa yang meletakkan batu pertama dalam pembangunan pura ini ? Ternyata beliau adalah seorang tokoh spiritual India yang lama hidup di Jawa. Namanya Markandeya. Ada yang menambah kata Resi di depan namanya. Ada pula yang memberikan julukan Bhatara Giri Rawang.

Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.

Sebelum Pura Besakih berdiri megah seperti sekarang, dahulu kawasan itu berupa hutan belantara. Binatang buas masih banyak hidup di sana. Ketika itu juga belum ada Selat Bali yang kini dikenal dengan nama Segara Rupek. Daratan Bali dan Jawa dahulu kala konon masih menjadi satu, belum terpisahkan laut. Itulah sebabnya, daratan ini (Bali dan Jawa) sering disebut Pulau Dawa. Nama itu diberikan mungkin lantaran daratan ini panjang. Sebagaimana kita ketahui, kata “dawa” berarti panjang.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Batur

uluwatu temple

 

 

 

Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di sini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam dalam perjalanannya menuju daerah Badung dan kemudian ditempat inilah oleh orang-orang yang pernah menghadap kepadaDanghyang Nirartha dibangun bangunan suci (Pura atau Kahyangan) sebagai tempat memuliakan dan memuja Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa ) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Pura Uluatu

page

 

 

Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura di Bali dengan lokasinya yang sangat indah. Daya tarik utama bagi para wisatawan dari pura ini adalah panoramanya yang spektakuler. Uluwatu, yang terletak di ujung selatan pulau Bali dan mengarah ke samudra Hindia, merupakan tempat wisata yang menawan.

Apa yang menarik untuk dilihat di sini adalah pura yang berdiri kokoh di atas batu karmkl;nlnm/m

yang menjorok ke arah laut dengan ketinggian

sekitar 50 meter. Di sore harinya sambil menikmati indahnya sunset, anda dapat menyaksikan pementasan tari bali yang terkenal hingga ke manca negara, tari Kecak.

Tidak hanya itu, bagi anda yang senang belajar sejarah, pura yang satu ini sarat akan nilai sejarahnya. Sejarahnya akan diuraikan sebagai berikut :

Dalam beberapa sumber disebutkan, sekitar tahun 1489 Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita, sastrawan dan rohaniwan bernama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra adalah seorang pendeta Hindu, kelahiran Kediri, Jawa Timur.

Danghyang Dwijendra pada waktu walaka bernama Danghyang Nirartha. Beliau menikahi seorang putri di Daha, Jawa Timur. Di tempat itu pula beliau berguru dan di-diksa oleh mertuanya. Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra.

Setelah di-diksa, Danghyang Dwijendra diberi tugas melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat kawikon. Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama khususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa.

Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.

Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Sasak dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan.

Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang.

Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.

Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Sasak dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.

Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu.

Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.

Selain itu kawasan pantai di Uluwatu dengan ombaknya yang cukup besar sangat menantang untuk pencinta olahraga surfing. Tiap tahun event berlevel internasional selalu diadakan di pantai seputaran Uluwatu ini.

Untuk bisa masuk kedalam pura ini pengunjung harus mengenakan sarung dan selempang yang bisa disewa ditempat itu. Waktu terbaik untuk mengunjungi pura Uluwatu adalah sore hari pada saat matahari terbenam sehingga bisa menyaksikan pemandangan spektakulernya.

Tembahan informasi, disekitar komplek pura terdapat segerombolan monyet. Para monyet ini biasanya suka usil dengan mengambil berbagai macam barang yang dibawa pengunjung. Barang yang sering menjadi incaran mereka adalah kacamata, tas, dompetatau apa saja yang gampang direbut. Jadi hati-hati dengan mereka apabila sedang berkunjung di komplek pura Uluwatu Bali.

Categories: Pura-Pura di Bali | Leave a comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.